Pemerintah Desa Kereana, Kecamatan Botin Leobele, bersama warga penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako, menggelar aksi penanaman bambu di kawasan rawan longsor. Kegiatan ini dilakukan jelang penyaluran bansos triwulan II tahun 2025, sebagai upaya mitigasi bencana sekaligus pelestarian lingkungan.
Kepala Desa Kereana, Willybrodus Kanisius Khun, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari langkah pencegahan bencana yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. "Ini bukan hanya tentang menyalurkan bantuan, tapi juga membangun kesadaran warga untuk menjaga lingkungan demi masa depan yang lebih aman," ujarnya.
Penanaman bambu dipilih karena tanaman ini dikenal memiliki akar kuat yang mampu menstabilkan tanah, sehingga efektif mencegah erosi dan longsor. Lokasi penanaman sengaja diprioritaskan di daerah lereng yang rentan terhadap pergerakan tanah, terutama saat musim hujan.
Warga setempat menyambut positif kegiatan ini. "Kami senang bisa berkontribusi langsung. Selain dapat bantuan, kami juga diajak menjaga alam," kata salah satu peserta. Aksi ini dinilai sebagai terobosan yang menyentuh aspek keberlanjutan, tidak sekadar bersifat bantuan sesaat.
Kolaborasi antara Pemdes dan masyarakat ini diharapkan menjadi model pembangunan partisipatif, di mana kesejahteraan sosial berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan. Ke depan, kegiatan serupa akan terus digencarkan untuk memperkuat ketahanan desa terhadap bencana alam.
Sumber: RRI NTT